Hidup bukanlah sesuatu yang sederhana, tentu, aku mengingkan sesuatu yang luar biasa dalam hidup. semisal, berkeliling Indonesia tanpa pesawat. itu adalah mimpi terbesar yang ku genggam saat ini. mimpi untuk pergi keseluruh penjuru negri ini, yang konon sangat kaya. konon, ya. sebab aku masih belum bisa melihat dengan mata kepalaku sendiri secara langsung. selama ini, mimpi itu menggangtung dilangit-langit malam ku, semakin malam semakin hidup. rasanya indah bukan? menikmati Indonesia tanpa pesawat.
Semua keinginan ini muncul ketika aku dan Agung sepakat untuk sama-sama berniat sekolah setinggi-tingginya di negri ini. lalu ketika kamu touring kebeberapa tempat, dimulai yang dekat seperti Bogor, Puncak, Menjelajah Jakarta (Utara, Selatan, Barat, Timur, Pusat, semua sudah hatam), lalu ke Pantai Carita, hingga yang sangat mengesankan ke Yogyakarta (aku berangkat dari Kediri sedang Agung dari Jakarta dan kami bertemu di Yogya, menjelajah ke Parangtiris, Pantai Baron, Pantai Sundak, Pantai Sepanjang, lalu menikmati Keraton dan Malioboro ), lalu ke setelah itu kami benar-benar berangkat dari Jakarta menuju Jawa Tengah. tepatnya ke Ajibarang (dekat Purwokerto). semuanya tanpa pesawat. semuanya di warnai dengan lelah dan antusias. semua perasaan-perasaan semakin berkembang hingga mimpi ini terbentuk, keliling Indonesia tanpa pesawat. Melihat semua yang ada di negri ini, pantainya, lautnya, gunung dan bukit-bukitnya, penduduknya.
Ah, rasanya hati ku selalu makin membuncah setiap kali membicarakan mimpi ini. Apa yang akan ku lakukan jika aku berhasil menjelajahi negri ini? apakah aku akan tersenyum tanpa henti, atau menangis haru?
setidaknya aku memiliki mimpi ini dengan orang yang tepat. orang yang sudah memberikan banyak pengalaman berharga serta pengertian-pengertian kehidupan.
Indonesia adalah negri bak di dalam dongeng, memiliki segalanya. namun sayang, kita masih buta untuk dapat memajukanya. mimpi ku ini tentu tak kosong seperti bambu di hutan. aku memiliki jalan dan semoga kelak, dengan jalan itu aku bisa memeluk Indonesia-ku.
Meski belum lulus S1, aku ingin meneruskan S2 kelak di kenotarian UI, lalu Agung, ia akan memulai karirnya dengan berkecimpung di PERADI, APSI, atau lembaga manapun yang dianggapnya baik untuk menuju tujuan nya. aku ingin menjadi notaris, Agung menjadi pengacara.
pekerjaan yang berat namun tak berjadwal. yang memungkinkan kami untuk pergi mengarungi Indonesia kelak. pekerjaan yang kami cintai. ia suka berkelibat dengan hukum, sedang aku senang berlama-lama dengan pencatatan.
Ah ya, betapa Indonesia menyimpan berjuta rasa di nurani, betapa Soekarno dan Hatta adalah nabi bagi bangsa ini.
aku tidak selalu bisa menulis jika kau ada, juga jika kau tak ada. namun kecintaan untuk menulis semakin mengesankan setelah kau ada.
Selasa, 07 Januari 2014
Jumat, 18 Oktober 2013
mencintai-Nya...
ibuku pernah berkata bahwa aku harus mencintai orang seperti dia. yang
pandai beragama dan membaca hukum dari huruf-huruf gundul arab itu. aku
setuju, namun ternyata tidak sepenuhnya. maksudku, mencintai seseorang
dengan aturan dosa dan pahala adalah hal yang sulit dimengerti. semacam
mancintai hakim dengan kitab undang-undangnya. ibu, biarkan aku
mencintai orang lain, yang membawa agama dengan hatinya, bukan dengan
kitab yang berisi dosa atau pahala. sebab Tuhan tidak pernah meminta
pahala atau membenci dosaku. Tuhan hanya ingin Cinta yang ikhlas untuk
DiriNya.
Jumat, 04 Oktober 2013
Payung Cinta Syifa
Ruang
kelas yang sunyi, semua masih terlihat tenang dengan lembar ujian
masing-masing. Sudah 60 menit berlalu, dan sialnya, masih ada 5 nomer lagi yang
belum aku selesaikan. Aku mencoba mengingat-ingat lagi rumus yang menyebalkan,
menulisnya, menghapusnya, kemudian menulis lagi. Entahlah, yang penting semua
soal ini terjawab. Bel istirahat berbunyi, ah akhirnya. Aku mengumpulkan kertas
ujianku dan keluar kelas bersama Syifa dan Nunu. Sahabat terbaikku. Kami
berkenalan saat masuk dikelas XI, maklum, setiap tahun di sekolahku selalu ada pergantian kelas, pergantian
teman, dan mungkin ada yang berganti pacar juga.
“Guys…” Ucap Syifa sambil membuka
pesan di handphonenya saat kami sedang makan di kantin. “Tian lagi-lagi enggak
bales sms, hampir dua minggu flat banget.”
Aku
menghela napas panjang, sebenarnya tidak tega melihatnya selalu “menanti”.
Syifa dan pacarnya, Tian, sudah menjalin hubungan sejak mereka kelas 3 SMP.
Memang sih itu bisa dikatakan cinta monyet, tetapi hubungan itu terus
berlanjut hingga sekarang. Meskipun sempat putus nyambung, aku sendiri tidak
cukup mengerti mengapa Syifa mau CLBK lagi jika teringat cerita Syifa saat Tian
menduakanya, rasanya itu adalah hal tergila yang pernah aku dengar. Pada saat
itu hubungan mereka sudah 11 bulan lamanya, namun Tian tiba-tiba bersikap cuek
bahkan sering mengabaikan apa yang Syifa ucapkan.
Syifa
adalah perempuan cantik yang polos, namun bukan berarti ia akan diam saja untuk
mengatasi hal ini. Syifa mencoba menghampiri Tian dirumahnya, yang kebetulan
saat itu ada teman-teman Tian juga, dan ternyata Perempuan tersebut adalah
tetangga Tian. Pertemuan tiga hati itu akhirnya terjadi diluar rencana. Tian
yang terkejut mau tidak mau mengakui perselingkuhanya yang sudah ia lakukan
selama 3 bulan. Lalu, aku tidak tahu apa yang ada dibenak Syifa saat itu, akhirnya
Tian memutuskan untuk mengakhiri perselingkuhanya dan memilih Syifa. Dan
sahabatku yang baik itu memaafkan Tian dengan alasan “aku sangat menyayangi
Tian, Ca.”.
“Ca?”
Tanya Syifa kesal membuyarkan lamunanku tadi.
“Mungkin dia ketiduran semalem.”
Jawabku mencoba menghibur. “Yaudah nanti coba di telfon, Tian lagi enggak ada
pulsa mungkin.” Syifa menggangguk dan mencoba membetulkan kaca matanya yang
sudah ia kenakan sejak SD. Kemudian ia membuka akun twitter dari handphone nya,
mengetik nama “Tian Prasetya” pada bagian search. Sejenak dahinya mengerut,
alisnya menjadi lebih tebal dan rahangnya mengeras. “Kenapa Syif?” Tanyaku
heran. Syifa menyerahkan telfon genggamnya sambil mengusap ujung-ujung matanya.
Aku mulai membaca apa yang Syifa maksud. Sesak. Aku tau semua mention di akun
twitter ini membuat dada Syifa terhimpit rasa sedih.
“Syif, kali ini aku gak bisa terima
kalau kamu maafin Tian lagi! ini kedua kalinya.” Ucapku sedih sambil menyentuh
bahu Syifa yang kian gemetar. Nunu ikut memeluknya.
****
Keesokan harinya Syifa menelfon
Tian. Setelah mengumpulkan seluruh perasaanya semalaman, akhirnya ia
memberanikan diri untuk menanyakanya langsung kepada Sang Pacar. “Mau kamu apa sekarang?”
“Mau apa? Aku gak gimana-gimana,
kamu aja yang berlebihan, itu cuma mention biasa kok.”
“Biasa apa? Kamu sama dia pake
sayang-sayang gitu ngomongnya. Kamu gak sadar kalau kamu masih pacar aku? Kalau
kayak gini terus mending putus aja! Kamu gak pernah bisa berubah!”
“Ah! Kalau mau putus, yasudah kita
putus sekarang!” Jawab Tian kasar dan menutup telfon itu. Syifa menangis
sejadi-jadinya. Sebenarnya ia tidak serius untuk mengatakan “putus”, itu hanya
sebuah gertakan atau ucapan spontan yang ia utarakan. Tetapi Tian lebih keras
dan justru malah Tian yang memutuskan hubungan mereka. Ah, Syifa yang malang.
****
Aku dan Nunu duduk didepan bangku
Syifa, mendengarkan cerita sendunya sambil sesegukan. Hari ini masih pagi, bel
masuk sekolahpun belum berbunyi namun Syifa sudah menarik kami yang selalu siap
mendengarkan ceritanya.
“Akhirnya, malah aku yang diputusin
Tian. Seharusnyakan aku yang mutisin…” Ucapnya tersedu-sedu. Nunu memberikan
tissue padanya. “Kalau gitu, Tian memang sudah gak sayang lagi sama kamu. Ayo
dong Syif, jangan nangis terus. Dengan sikap Tian yang kayak gitu, semakin
menandakan bahwa dia enggak baik untuk kamu.” Ucap Nunu prihatin. Aku
menggangguk setuju.
Matanya semakin merah, tissue yang
diberikan Nunu sepertinya tidak cukup. Aku memberikan Tissue yang baru. “Sudah
mau bel nih, malu loh sama orang-orang kalau nangis begini. Lupain
sejenak dulu yaa.” Ucapku sambil menepuk bahunya.
****
Hari ini adalah hari terakhir ujian
sekolah, dan sudah seminggu ini Syifa tidak membicarakan soal Tian kepada kami.
Mungkin karena ujian sekolah ikut serta menelan kenangan pahit Tian yang
mengharuskan Syifa belajar lebih sering karena kami akan lulus dari SMA.
Beruntung Syifa masih bisa membagi perasaan dan otaknya dengan benar, jika
tidak pasti ujian kali ini ia stress.
“Kemarin aku ketemuan sama Tian.”
Ucap Syifa kepada Aku dan Nunu sambil menunggu mikrolet di pinggir jalan raya
dekat depan gerbang sekolah. Aku yang sedang meminum jus mangga sedikit
tersendak. “Kok bisa?”
“Iya bisa. Jadi kemarin itu dia
nelfon aku. Dia cerita kalau dia kabur dari rumah.” Ucap Syifa dengan mata yang
sedih. Aku dan Nunu mendengarkan dengan seksama, antara percaya atau tidak.
“Kasihan dia, dia ribut sama
keluarganya dan kabur dari rumah. Aku gak tega, makanya pas Tian nelfon dan
bilang kabur dari rumah, aku langsung ketemuan sama Tian. Aku juga bawain dia
makanan. Dia sekarang basecamp bandnya. Sekarang aku mau kesana lagi, Kasihan, Tian
pasti belum makan siang.” Ucap Syifa, matanya terlihat berbinar-binar. Ia
seperti sudah lupa dengan perselingkuhan-perselingkuhan Tian. Aku dan Nunu saling
pandang. Entah Syifa amnesia atau sedang menjelma malaikat bagi Tian, kami
tidak mengerti.
Aku menghabiskan jusku dengan cepat
dan menghela napas panjang, “Syif, kamu lupa soal kejadian minggu-minggu lalu?
Kenapa bisa kamu sekarang malah jadi malaikatnya dia? Aku bingung sama Tian,
dan lebih bingung lagi sama kamu.” Entah mengapa sikap Syifa ini mengecewakan
aku dan Nunu, bagaimanapun Tian bersikap seolah Syifa adalah tempat ia
berteduh, dan saat ia memiliki payung baru, ia membuang payung yang telah Syifa
sediakan sepenuh hati dengan kesetiaan dan rasa sayang.
“Bukannya aku lupa, tapi gimana?
Kasihan kan Tian keadaanya lagi kayak gini. Di basecamp itupun Tian gak punya
cukup uang.” Jawab Syifa sedih.
“Terus pacar barunya memang kemana
Syif? Kenapa dia gak nelfon pacarnya? Kok malah ke kamu sih?” Tanya Nunu
geregetan.
“Mereka sudah putus Nu, Tian bilang
kalau dia nyesel banget selingkuh lagi. Dan dia juga bilang kalau cuma aku yang
peduli sama dia, dia janji bahwa aku ini masa depanya.” Entah mengapa aku
hampir mau muntah mendengar gombalan Tian yang Syifa ucapkan, Tetapi rasanya
tidak mungkin aku muntah didepan Syifa. Aku dan Nunu akhirnya membiarkan Syifa
pergi ke basecamp Tian. Semoga kali ini Tian benar-benar Insyaf.
****
Setelah kejadian “minggatnya
Tian dari rumah”, Syifa dan Tian jadian lagi. sudah sebulan ini hubungan mereka
baik-baik saja meskipun sesekali ada pertengkaran kecil akibat salah paham.
“Oh
iya, besok malam ada pensi nih di sekolahnya Tian, Tian manggung loh sama
bandnya. Nanti kita nonton yuk Ca.” Pintanya sambil membetulkan kacamatanya.
Aku terdiam sejenak dan menggelengkan kepala. “Enggak bisa Syif, acaranya malem
ya pasti?” Tanyaku kembali dengan wajah yang sedikit sedih. Aku selalu tidak
bisa keluar rumah dimalam hari, tidak seberuntung teman-teman yang lain.
“Hemm yaudah-yaudah, kasihan si anak
mama ini gak bisa keluar malem hahaha.”
Malam harinya, Tian datang menjemput
Syifa dirumahnya. Ia mengenakan kaos hitam dan celana hitam. mengenakan kalung
hitam serta gelang tali berwarna hitam di pergelangan tangan kirinya. Syifa
keluar rumah dengan baju berwarna merah, kerudung hitam dan rok bercorak.
“Aneh banget sih penampilan kamu?
Ganti deh roknya, pake celana jeans aja.” Komentar Tian tidak suka. Akhirnya
Syifa pun mengganti pakaiannya dan setelah itu mereka langsung menuju sekolah
Tian.
Suasana disekolah Tian sangat ramai,
panggung yang dihias dengan lampu-lampu cantik serta para peserta pensi sudah
terlihat sibuk mempersiapkan penampilanya. Syifa diajak Tian untuk masuk
kedalam ruang ganti. Disana banyak teman-teman Tian sedang bersiap-siap dengan
alat musik mereka. Syifa terkejut bukan main. Mereka semua memakai baju hitam,
dan teman perempuan Tian, yang mungkin adalah pacar-pacar dari cowok band
inipun memakai baju hitam. Kok cuma aku yang pakai baju merah? Apa aku salah
kostum ya?
“Yuk keluar, sebentar lagi band kita
dipanggil.” Ucap Tian kepada teman-temanya. Merekapun keluar ruangan dan tak
lama kemudian, MC memanggil band Tian.
“Kamu nonton paling depan ya.” Ucap
Tian kepada Syifa dengan terburu-buru. Syifa menurut saja dan langsung
menerobos desakan para penonton. “Hei Syif!” Teriak Nunu dari sisi lain di
depan panggung. Ia melambaikan tangan dan menghampiri Syifa.
“Hai Nu! Kamu sama siapa kesini?”
Tanya Syifa sambil berteriak. Suasana disini sangat berisik. Terlebih ketika
Band Tian memulai konsernya. “Sendirian haha.” Jawab Nunu senang. “Loh itukan
Tian? Waw! Ternyata aliran musiknya Metal haha. Kamu ikutan nyanyi dong Syif,
sambil gini nih jari kamu.” Ucap Nunu seru sambil mengacungkan jari telunjuk, ibu
jari serta kelingkingnya. Tanda metal. Mereka berdua tertawa dan kembali
menatap Tian yang sedang asik dengan bass ditanganya. Pertunjukan musik metal
yang gokil.
“Nu, sudah jam 10 malam nih, aku
harus pulang.” Ucap Syifa ketika Tian selesai manggung.
“Kamu enggak dianter Tian?” Tanya
Nunu sambil meminum air mineral. Syifa menggeleng. “Hati-hati yaa.” Ucap Nunu
sambil mengawasi Syifa naik kendaraan umum di sebrang jalan yang lenggang.
****
Syifa menelfon Tian malam ini.
Seminggu setelah pensi disekolahnya, Tian tidak menghubungi Syifa lagi. Tidak
ada jawaban. Apa Tian enggak ada pulsa ya? Syifa keluar rumahnya dan
menuju sebuah konter pulsa. Mamasukan nomer Tian dan mengisinya dengan pulsa.
Namun sayang, lagi-lagi Tian tidak bisa dihubungi. Ia mengirim pesan SMS, tak
lama kemudian Tian membalasnya.
Ini siapa ya? Hp nya Tian lagi sama
pacarnya.
Bahunya kembali bergetar. Pacar?
Dengan perasaan kacau ia memberanikan diri menelfon. “Ini Syifa, pacarnya
Tian.” Ucapnya kepada seorang perempuan disebrang sana.
Kini
ia mulai paham, ketika mereka kembali menjalin hubungan, ternyata Tian pun
sedang menjalani hubungan dengan cewek lain. Dan itu artinya, Syifa-lah yang
saat ini menjadi selingkuhan Tian.
Akhirnya, siang ini Syifa kembali memberanikan diri menemui Tian
dirumahnya, bagaimanapun fakta yang ia tau sekarang, ia sangat ingin semua itu
Tian sendiri yang mengutarakan. Namun sayang, Tian tidak disana.
“Tian dari semalem belum pulang
Syif, kamu mau tunggu aja? Biar nanti aku yang telfon Tian untuk bilang kamu
ada dirumah.” Ucap kakak Tian baik. Namun Syifa menolak untuk menungu Tian. Ia
memang akan menunggu Tian, namun tidak dirumahnya, ia terlalu sungkan dan malu
jika harus menunggu Tian disana. Syifa pamit pulang dan ia duduk di pos ronda
dekat gang rumah Tian. Akan lebih nyaman menunggu Tian dari sini. Pikirnya saat
itu.
Syifa duduk sambil menggenggam
tangannya sendiri, bibirnya terasa kelu dan bendungan dimatanya sesekali
menumpahkan air. Dimana Tian sekarang? Syifa sangat membutuhkan pernyataan
lelaki itu. Matahari semakin menurun kearah barat, sudah 5 jam lamanya ia duduk
di pos ini hingga langit menunjukan bercak-bercak merahnya.
“Neng, kok dari tadi disini? Neng
kesasar ya?” Tanya seorang ibu yang kebetulan memiliki rumah disebelah pos
ronda ini. Syifa menggeleng sambil menunjukan senyum terpaksanaya. Syifa
menekan tombol telfon, menghubungiku yang sedang ada di rumah. “Ada apa Syif?”
tanyaku bingung. Suaranya serak. Ia suliit mengeluarkan kata-katanya sendiri.
“Ca, tolong bilang sama aku kalau
aku adalah perempuan paling bodoh sedunia! Aku sudah didekat rumah Tian sejak
pukul 1 siang dan aku gak tau dimana dia sekarang.” Ucapanya terbata-bata
sambil menangis, napasnya tersenggal dan ia semakin sesak.
“Syif, sekarang kamu pulang! Bodoh!
untuk apa disana? Kemana Tian? Kamu cuma buang-buang waktu dan nyakitin
perasaan sendri dengan nunggu Tian yang gak pasti seperti itu!” Ya Tuhan,
kenapa Syifa selalu nekat?
“Aku janji Ca, ini adalah yang
terakhir. Aku akan nunggu Tian sampai pukul 8 malam, setelah itu aku janji sama
kamu dan Nunu, ini adalah yang terakhir kalinya aku menunggu Tian. Aku cuma mau
dengar semuanya dari Tian, aku butuh itu.” Kemudian Syifa menutup telfonya
sambil menangis. Ia membiarkan dirinya sendiri menunggu sendu Tian yang hingga
pukul 8 malam tidak kunjung datang.
Syifa-pun pulang dengan mata yang
lebam serta dada yang sesak. Tian tidak pernah datang
kembali. Ia sudah mengenakan payung berteduh milik perempuan lain.
Kamis, 26 September 2013
21 september yang sendu.
Jika dilupakan, apakah itu artinya tidak penting? atau jika tidak penting, apakah akan selalu dilupakan?
duhai, aku tidak pernah mengerti sebab ataupun asal muasal perasaan remuk ini.
hingga malam merembet dalam kesedihan, aku hanya bisa menerka-nerka.
bahkan untuk menerka sekalipun, aku merasa berdosa. sebab kau tidak terlihat.
sebab kau tidak bisa terbacakan.
Jika dilupakan, apakah itu artinya tidak penting? atau jika tidak penting, apakah akan selalu dilupakan?
aku sendiri tidak pernah bisa tau lagi, apa itu penting dan tidak penting.
setidaknya semua itu terjadi setelah kau ada.
untukku semua hal yang tertoreh, semua berawalan namamu.
nama yang selalu ku ingat.
entah penting atau tidak, nama itu terus terukir nyata.
Jika dilupakan, apakah itu artinya tidak penting? atau jika tidak penting, apakah akan selalu dilupakan?
namun ternyata perasaan ini tidak mengenal timbal-balik.
ia mengabaikan sebab akibat ataupun sebuah balasan.
hingga kau yang melupakan dan dengan cepat menyergap hati dengan kekecewaan.
aku tidak pernah bisa benar-benar ingin melupakan.
hingga bulan ini berakhir sendu di 21 september, aku tidak pernah mengerti.
sebab, jika dilupakan, apakah itu artinya tidak penting? atau jika tidak penting, apakah akan selalu dilupakan?
duhai, aku tidak pernah mengerti sebab ataupun asal muasal perasaan remuk ini.
hingga malam merembet dalam kesedihan, aku hanya bisa menerka-nerka.
bahkan untuk menerka sekalipun, aku merasa berdosa. sebab kau tidak terlihat.
sebab kau tidak bisa terbacakan.
Jika dilupakan, apakah itu artinya tidak penting? atau jika tidak penting, apakah akan selalu dilupakan?
aku sendiri tidak pernah bisa tau lagi, apa itu penting dan tidak penting.
setidaknya semua itu terjadi setelah kau ada.
untukku semua hal yang tertoreh, semua berawalan namamu.
nama yang selalu ku ingat.
entah penting atau tidak, nama itu terus terukir nyata.
Jika dilupakan, apakah itu artinya tidak penting? atau jika tidak penting, apakah akan selalu dilupakan?
namun ternyata perasaan ini tidak mengenal timbal-balik.
ia mengabaikan sebab akibat ataupun sebuah balasan.
hingga kau yang melupakan dan dengan cepat menyergap hati dengan kekecewaan.
aku tidak pernah bisa benar-benar ingin melupakan.
hingga bulan ini berakhir sendu di 21 september, aku tidak pernah mengerti.
sebab, jika dilupakan, apakah itu artinya tidak penting? atau jika tidak penting, apakah akan selalu dilupakan?
Jumat, 20 September 2013
19 Tahun
Malam terakhir usia 19 tahun.
Selamat datang usia 20 tahun, aku
bahagia akhirnya Tuhan masih mempertemukan kita dalam keadaan yang haru dan
romantis. Bagiku, usia dua puluh adalah usia awal kedewasaan diri. Aku
berjanji, kau akan menjadi wanita yang lebih baik!
Setelah berhasil melewati usia 19
tahun yang penuh cerita, aku sangat berterimakasih kepada keluarga, terutama
mama, yang sudah mempercayaiku sebagai “sahabat” nya. Kau tau usia 20? Mama
sudah menjadi sahabatku sejak aku berusia 19 tahun. Ia sering bercerita tentang
apa saja yang ia suka. dan tentu akupun menyukainya. Kau harus berterimakasih
kepada usia 19 karena ia telah berhasil menjadi sahabat bagi mama.
Cerita yang paling kusuka selama satu
tahun ini adalah cerita mama saat ia remaja dan dewasa. Baiklah, aku akan
menceritakanya sedikit disini. Pada suatu hari, oh tidak tidak, jangan pada
suatu hari (ini bukan dongeng), bagaimana jika kita memulainya dengan kata-kata
“Pada saat itu”.
Pada saat itu, mama remaja adalah
seorang gadis cantik berambut panjang sepinggul, hitam lebat dan lurus. bukan
karena jasa shampoo atau creambath di salon, tetapi karena minyak kelapa buatan
nenekku yang sering ia gunakan dirambutnya, terkadang ia juga menggunakan
minyak kemiri. Mama bukan gadis kota yang hidup berkecukupan, ia hanya seorang
anak kepala sekolah (jangan bayangkan kepala sekolah dahulu dengan kepala
sekolah saat ini, dahulu nasib guru dan kepala sekolah tidak semenarik sekarang,
pada saat itu pak Soeharto tidak memiliki kebijakan serta kepedulian terhadap
dunia pendidikan seperti pak SBY saat ini). Mama sering mendulang batu di
sungai belakang rumah. sungai yang bersih, lebar, dan ia sangat jago berenang.
meskipun sering melakukanya, kulit mama tetap putih, rambutnya tetap hitam
lebat, dan tentunya ia tetap cantik sebagai bunga Dahlia di desanya. Kesederhanaan
kakek mengajari mama banyak hal, ia sama sederhananya dengan kakek. Mama pernah
bercerita, suatu ketika pintu di sekolah yang kakek pimpin rusak,
bangku-bangkunya sudah reot dan sesekali mengeluarkan derit kayu rapuh jika
digerakkan. Tak segan-segan kakek membawa alat-alat kayu dan membetulkanya
sendiri. Hal itu kini menjadi inspirasi bagi mama. Saat ini, mama sedang dalam
proses seleksi kepala sekolah. Namanya sering kali masuk dalam Koran Radar Depok
atau Koran Monitor Depok sebagai guru perempuan yang membanggakan. Nama mama
selalu berada di tingkat satu atau nilai tertinggi dalam setiap tes. Aku sangat
yakin, banyak sekali nila-nilai yang ia adopsi dari kakek. Saat ini, ia sudah
memiliki nilai tertinggi di kecamatan sebagai guru, dan sebentar lagi akan
masuk tahap kota. Aku selalu mendengarkan cerita mama setiap kali ia bercerita
soal tes kepala sekolah, yangs sering kali membuatnya bingung, namun selalu bisa
ia lewati dengan sangat baik.
Selepas sekolah dasar di desa
Leuwiliang Bogor, mama lanjut ke SMP dan SPG (Sekolah Pendidikan Guru), yang
saat ini namanya dikenal dengan sekolah PGRI. Kakek ingin mama menjadi guru dan
PNS. Pada saat tahun 80-an, menjadi PNS bukanlah hal yang menarik. Gaji kecil,
Tunjangan pas-pasan. Namun itu bukanlah halangan bagi kakek dan mama. Menurut
kakek dan Mama, perempuan itu sangat cocok menjadi guru PNS karena guru
memiliki banyak waktu untuk keluarga. Sudah tentu maksudnya adalah agar mama
menjadi ibu rumah tangga dan wanita karir yang baik. Seorang guru dalam
sehari-harinya bisa melakukan : Pagi hari membuat sarapan untuk suami dan anak,
setelah itu ia pergi bekerja (mengajar), siang hari sudah pulang dan bisa
menyiapkan makan siang untuk anak, lalu mengurus pekerjaan rumah dan merawat
anak, malam hari suami dan anak bisa makan malam dengan apa yang ia hidangkan.
Ah, sebenarnya aku sedikit menyesal kenapa dahulu aku menolak kuliah di
Pendidikan. tetapi tak apalah, jangan terus aku sesali kuliah di hukum, siapa
tahu aku bisa menjadi dosen hukum. iya kan?
Oh iya usia 20, aku ingin mengatakan
suatu kalimat yang pernah mama ucapkan padaku ketika ia mulai menjadi
sahabatku, kau jangan menangis yaa! mama pernah bilang, “Sekarang beban hidup
terasa ringan karena mama bisa cerita sama anak, dahulu, waktu kamu masih
kecil, semua yang mama alami harus mama pendam sendiri, berjuang demi
anak-anak. pahit manis. tetapi sekarang mama sudah punya anak yang bisa diajak
sharing, Alhamdulillah.”
Aku berharap kamu bisa menjadi jauh
lebih baik dan dewasa, terutama untuk mama dan keluarga. Dan hei! Sampai ketemu
dipenghujung usia 20 yaa! aku akan membuatkan kisah yang lebih menarik dari
kisah 19 tahun ini untukmu. Thanks for this Sweetember
Langganan:
Postingan (Atom)