Jumat, 20 September 2013

19 Tahun



Malam terakhir usia 19 tahun.
Selamat datang usia 20 tahun, aku bahagia akhirnya Tuhan masih mempertemukan kita dalam keadaan yang haru dan romantis. Bagiku, usia dua puluh adalah usia awal kedewasaan diri. Aku berjanji, kau akan menjadi wanita yang lebih baik!
Setelah berhasil melewati usia 19 tahun yang penuh cerita, aku sangat berterimakasih kepada keluarga, terutama mama, yang sudah mempercayaiku sebagai “sahabat” nya. Kau tau usia 20? Mama sudah menjadi sahabatku sejak aku berusia 19 tahun. Ia sering bercerita tentang apa saja yang ia suka. dan tentu akupun menyukainya. Kau harus berterimakasih kepada usia 19 karena ia telah berhasil menjadi sahabat bagi mama.
Cerita yang paling kusuka selama satu tahun ini adalah cerita mama saat ia remaja dan dewasa. Baiklah, aku akan menceritakanya sedikit disini. Pada suatu hari, oh tidak tidak, jangan pada suatu hari (ini bukan dongeng), bagaimana jika kita memulainya dengan kata-kata “Pada saat itu”.
Pada saat itu, mama remaja adalah seorang gadis cantik berambut panjang sepinggul, hitam lebat dan lurus. bukan karena jasa shampoo atau creambath di salon, tetapi karena minyak kelapa buatan nenekku yang sering ia gunakan dirambutnya, terkadang ia juga menggunakan minyak kemiri. Mama bukan gadis kota yang hidup berkecukupan, ia hanya seorang anak kepala sekolah (jangan bayangkan kepala sekolah dahulu dengan kepala sekolah saat ini, dahulu nasib guru dan kepala sekolah tidak semenarik sekarang, pada saat itu pak Soeharto tidak memiliki kebijakan serta kepedulian terhadap dunia pendidikan seperti pak SBY saat ini). Mama sering mendulang batu di sungai belakang rumah. sungai yang bersih, lebar, dan ia sangat jago berenang. meskipun sering melakukanya, kulit mama tetap putih, rambutnya tetap hitam lebat, dan tentunya ia tetap cantik sebagai bunga Dahlia di desanya. Kesederhanaan kakek mengajari mama banyak hal, ia sama sederhananya dengan kakek. Mama pernah bercerita, suatu ketika pintu di sekolah yang kakek pimpin rusak, bangku-bangkunya sudah reot dan sesekali mengeluarkan derit kayu rapuh jika digerakkan. Tak segan-segan kakek membawa alat-alat kayu dan membetulkanya sendiri. Hal itu kini menjadi inspirasi bagi mama. Saat ini, mama sedang dalam proses seleksi kepala sekolah. Namanya sering kali masuk dalam Koran Radar Depok atau Koran Monitor Depok sebagai guru perempuan yang membanggakan. Nama mama selalu berada di tingkat satu atau nilai tertinggi dalam setiap tes. Aku sangat yakin, banyak sekali nila-nilai yang ia adopsi dari kakek. Saat ini, ia sudah memiliki nilai tertinggi di kecamatan sebagai guru, dan sebentar lagi akan masuk tahap kota. Aku selalu mendengarkan cerita mama setiap kali ia bercerita soal tes kepala sekolah, yangs sering kali membuatnya bingung, namun selalu bisa ia lewati dengan sangat baik. 
Selepas sekolah dasar di desa Leuwiliang Bogor, mama lanjut ke SMP dan SPG (Sekolah Pendidikan Guru), yang saat ini namanya dikenal dengan sekolah PGRI. Kakek ingin mama menjadi guru dan PNS. Pada saat tahun 80-an, menjadi PNS bukanlah hal yang menarik. Gaji kecil, Tunjangan pas-pasan. Namun itu bukanlah halangan bagi kakek dan mama. Menurut kakek dan Mama, perempuan itu sangat cocok menjadi guru PNS karena guru memiliki banyak waktu untuk keluarga. Sudah tentu maksudnya adalah agar mama menjadi ibu rumah tangga dan wanita karir yang baik. Seorang guru dalam sehari-harinya bisa melakukan : Pagi hari membuat sarapan untuk suami dan anak, setelah itu ia pergi bekerja (mengajar), siang hari sudah pulang dan bisa menyiapkan makan siang untuk anak, lalu mengurus pekerjaan rumah dan merawat anak, malam hari suami dan anak bisa makan malam dengan apa yang ia hidangkan. Ah, sebenarnya aku sedikit menyesal kenapa dahulu aku menolak kuliah di Pendidikan. tetapi tak apalah, jangan terus aku sesali kuliah di hukum, siapa tahu aku bisa menjadi dosen hukum. iya kan? 
Oh iya usia 20, aku ingin mengatakan suatu kalimat yang pernah mama ucapkan padaku ketika ia mulai menjadi sahabatku, kau jangan menangis yaa! mama pernah bilang, “Sekarang beban hidup terasa ringan karena mama bisa cerita sama anak, dahulu, waktu kamu masih kecil, semua yang mama alami harus mama pendam sendiri, berjuang demi anak-anak. pahit manis. tetapi sekarang mama sudah punya anak yang bisa diajak sharing, Alhamdulillah.” 
Aku berharap kamu bisa menjadi jauh lebih baik dan dewasa, terutama untuk mama dan keluarga. Dan hei! Sampai ketemu dipenghujung usia 20 yaa! aku akan membuatkan kisah yang lebih menarik dari kisah 19 tahun ini untukmu. Thanks for this Sweetember

Tidak ada komentar:

Posting Komentar