Malam terakhir usia 19 tahun.
Selamat datang usia 20 tahun, aku
bahagia akhirnya Tuhan masih mempertemukan kita dalam keadaan yang haru dan
romantis. Bagiku, usia dua puluh adalah usia awal kedewasaan diri. Aku
berjanji, kau akan menjadi wanita yang lebih baik!
Setelah berhasil melewati usia 19
tahun yang penuh cerita, aku sangat berterimakasih kepada keluarga, terutama
mama, yang sudah mempercayaiku sebagai “sahabat” nya. Kau tau usia 20? Mama
sudah menjadi sahabatku sejak aku berusia 19 tahun. Ia sering bercerita tentang
apa saja yang ia suka. dan tentu akupun menyukainya. Kau harus berterimakasih
kepada usia 19 karena ia telah berhasil menjadi sahabat bagi mama.
Cerita yang paling kusuka selama satu
tahun ini adalah cerita mama saat ia remaja dan dewasa. Baiklah, aku akan
menceritakanya sedikit disini. Pada suatu hari, oh tidak tidak, jangan pada
suatu hari (ini bukan dongeng), bagaimana jika kita memulainya dengan kata-kata
“Pada saat itu”.
Pada saat itu, mama remaja adalah
seorang gadis cantik berambut panjang sepinggul, hitam lebat dan lurus. bukan
karena jasa shampoo atau creambath di salon, tetapi karena minyak kelapa buatan
nenekku yang sering ia gunakan dirambutnya, terkadang ia juga menggunakan
minyak kemiri. Mama bukan gadis kota yang hidup berkecukupan, ia hanya seorang
anak kepala sekolah (jangan bayangkan kepala sekolah dahulu dengan kepala
sekolah saat ini, dahulu nasib guru dan kepala sekolah tidak semenarik sekarang,
pada saat itu pak Soeharto tidak memiliki kebijakan serta kepedulian terhadap
dunia pendidikan seperti pak SBY saat ini). Mama sering mendulang batu di
sungai belakang rumah. sungai yang bersih, lebar, dan ia sangat jago berenang.
meskipun sering melakukanya, kulit mama tetap putih, rambutnya tetap hitam
lebat, dan tentunya ia tetap cantik sebagai bunga Dahlia di desanya. Kesederhanaan
kakek mengajari mama banyak hal, ia sama sederhananya dengan kakek. Mama pernah
bercerita, suatu ketika pintu di sekolah yang kakek pimpin rusak,
bangku-bangkunya sudah reot dan sesekali mengeluarkan derit kayu rapuh jika
digerakkan. Tak segan-segan kakek membawa alat-alat kayu dan membetulkanya
sendiri. Hal itu kini menjadi inspirasi bagi mama. Saat ini, mama sedang dalam
proses seleksi kepala sekolah. Namanya sering kali masuk dalam Koran Radar Depok
atau Koran Monitor Depok sebagai guru perempuan yang membanggakan. Nama mama
selalu berada di tingkat satu atau nilai tertinggi dalam setiap tes. Aku sangat
yakin, banyak sekali nila-nilai yang ia adopsi dari kakek. Saat ini, ia sudah
memiliki nilai tertinggi di kecamatan sebagai guru, dan sebentar lagi akan
masuk tahap kota. Aku selalu mendengarkan cerita mama setiap kali ia bercerita
soal tes kepala sekolah, yangs sering kali membuatnya bingung, namun selalu bisa
ia lewati dengan sangat baik.
Selepas sekolah dasar di desa
Leuwiliang Bogor, mama lanjut ke SMP dan SPG (Sekolah Pendidikan Guru), yang
saat ini namanya dikenal dengan sekolah PGRI. Kakek ingin mama menjadi guru dan
PNS. Pada saat tahun 80-an, menjadi PNS bukanlah hal yang menarik. Gaji kecil,
Tunjangan pas-pasan. Namun itu bukanlah halangan bagi kakek dan mama. Menurut
kakek dan Mama, perempuan itu sangat cocok menjadi guru PNS karena guru
memiliki banyak waktu untuk keluarga. Sudah tentu maksudnya adalah agar mama
menjadi ibu rumah tangga dan wanita karir yang baik. Seorang guru dalam
sehari-harinya bisa melakukan : Pagi hari membuat sarapan untuk suami dan anak,
setelah itu ia pergi bekerja (mengajar), siang hari sudah pulang dan bisa
menyiapkan makan siang untuk anak, lalu mengurus pekerjaan rumah dan merawat
anak, malam hari suami dan anak bisa makan malam dengan apa yang ia hidangkan.
Ah, sebenarnya aku sedikit menyesal kenapa dahulu aku menolak kuliah di
Pendidikan. tetapi tak apalah, jangan terus aku sesali kuliah di hukum, siapa
tahu aku bisa menjadi dosen hukum. iya kan?
Oh iya usia 20, aku ingin mengatakan
suatu kalimat yang pernah mama ucapkan padaku ketika ia mulai menjadi
sahabatku, kau jangan menangis yaa! mama pernah bilang, “Sekarang beban hidup
terasa ringan karena mama bisa cerita sama anak, dahulu, waktu kamu masih
kecil, semua yang mama alami harus mama pendam sendiri, berjuang demi
anak-anak. pahit manis. tetapi sekarang mama sudah punya anak yang bisa diajak
sharing, Alhamdulillah.”
Aku berharap kamu bisa menjadi jauh
lebih baik dan dewasa, terutama untuk mama dan keluarga. Dan hei! Sampai ketemu
dipenghujung usia 20 yaa! aku akan membuatkan kisah yang lebih menarik dari
kisah 19 tahun ini untukmu. Thanks for this Sweetember
Tidak ada komentar:
Posting Komentar